potret pendidikan di indonesia

Setiap manusia pasti membutuhkan pendidikan terkhusus pada anak-anak. Sejak usia dini anak-anak haruslah mendapatkan pendidikan. Paling tidak dibekali dengan pendidikan tentang sopan santun, pendidikan agama dan sebagainya. Peran orang tua sangatlah perlu disini, karena dapat membantu anak-anak dalam proses pendidikan. Dengan pendidikan, maka kualitas sumber daya manusia akan semakin tinggi dan membantu dalam proses pembangunan ekonomi Negara. Di Negara Indonesia pun, prioritas utama selain kesehatan adalah pendidikan. Karena itu merupakan syarat kemajuan dari suatu bangsa. Maka dari itu, dalam proses pendidikan ini dibutuhkan fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas tersebut. Seperti : buku pelajaran, internet, bangunan sekolah, perpustakaan dan lain-lain.
menurut data yang saya dapat, bersumber dari JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) terdapat tujuh permasalahan pendidikan Indonesia yang harus diselesaikan pemerintah dengan segera guna mewujudkan nawacita bidang pendidikan. ke tujuh hal tersebut yakni:
1. Pertama, nasib program wajib belajar (wajar) 12 tahun ini masih di persimpangan jalan. Alasannya, program itu belum memiliki payung hukum. Perbincangan soal realisasi wajar 12 tahun ini mengemuka sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga 2015. seharusnya, UU Sisdiknas harus diamandemen khususnya pasal terkait wajar sembilan tahun diubah menjadi 12 tahun. Atau, bisa juga didorong melalui Instruksi Presiden dan Peraturan Daerah tentang pelaksanaan wajar 12 tahun di provinsi.
2. angka putus sekolah dari SMP ke jenjang SMA mengalami kenaikan. Hal ini dipicu maraknya pungutan liar di jenjang MA/SMK/SMA. Banyak kabupaten/kota yang dulu sudah menggratiskan SMA/SMK, tapi kini mereka resah karena banyak provinsi yang membolehkan sekolah untuk menarik iuran dan SPP untuk menutupi kekurangan anggaran untuk pendidikan.
3. pendidikan agama di sekolah mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi, baik metode pembelajarannya maupun gurunya. Berdasarkan penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta (Desember 2016), terdapat 78 perden guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di sekolah, setuju jika pemerintah berdasyarkan syariat Islam dan 77 persen guru PAI mendukung organisasi-organisasi yang memperjuangkan syariat Islam.
4. masih lemahnya pengakuan negara atas pendidikan pesantren dan madrasah (diniyah). Model pendidikan ini berperan sejak dahulu, jauh sebelum Indonesia merdeka
5. pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP) harus tepat sasaran dan tepat waktu. Bersekolah bagi kaum marginal masih jadi impian. Marginal di sini terutama dialami oleh warga miskin dan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
6. kekerasan dan pungutan liar di sekolah masih merajalela. Potret buram pendidikan di Indonesia masih diwarnai oleh kasus kekerasan di sekolah dan pengaduan pungli. Modus kekerasan ini sudah sangat rumit untuk diurai, karena para pelakunya dari berbagai arah.
7. ketidak-sesuaian antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Saat ini ada lebih dari tujuh juta angkatan kerja yang belum mempunyai pekerjaan. Sementara di saat yang sama, dunia usaha mengalami kesulitan untuk merekrut tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dan siap pakai.
 dari ke tujuh hal ini menunjukkan masih adannya permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan yang Indonesia anut dan laksanakan sehingga masalah ketersediaan sumber daya manusia yang ada belum dapat terpenuhi. padahal di era MEA ini ketersediaan lapangan pekerjaan lokal bukan hanya berkompetisi hanya dengan masyarakat lokal tetapi juga secara langsung dengan tenaga kerja luar negara terlebih wilayah ASEAN. untuk itu pembenahan pendidikan nasional sangatlah perlu dilaksanakan dengan segeraa karena berbicara pendidikan maka berbicara pula pembangunan nasional kedepannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori pembangunan neo-klasik dan kontemporer serta masalah lanjutan equilibrium jamak

Apa yang harus dilakukan desa untuk membangun desa yang berdampak pada pengendalian urbanisasi

apa yang diharapkan dari pembelajaran ekonomi pembangunan?